Senin, 15 November 2010

Kolesterol di Kelopak Mata Diduga Tunjukkan Risiko Sakit Jantung

Los Angeles (ANTARA/Xinhua-OANA) - Penumpukan kolesterol di kelopak mata manusia dan sekitarnya mungkin menujuk kepada risiko lebih tinggi serangan jantung, penyakit pembuluh darah dan kematian dini.
Pernyataan pers American Heart Association (AHA), Senin menyebutkan penumpukan kolesterol di kelopak mata barangkali adalah penanda bagi risiko serangan jantung, tak peduli bagaimanapun profil kolesterol pasien.
Siaran pers tersebut --yang mengutip temuan penelitian oleh beberapa ilmuwan Denmark menyatakan separuh pasien dengan penumpukan semacam itu, kondisi yang disebut xanthelasmata, sesungguhnya memiliki tingkat kolesterol normal, katanya.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Mette Christoffersen dari Copenhagen University Hospital dan University of Copenhagen di Denmark, dan temuannya disajikan dalam pertemuan tahunan AHA yang sedang berlangsung di Chicago, Amerika Serikat, kata siaran pers itu.
Di dalam studi tersebut, para peneliti itu melacak kesehatan hampir 13.000 pasien yang diperiksa untuk mengetahui keberadaan penumpukan semacam itu di kelopak mata.
Para peneliti tersebut mendapati bahwa mereka yang memiliki kondisi itu memiliki tingkat risiko lebih tinggi untuk terserang sakit jantung dan serangan jantung saat mereka bertambah tua, dan angka kelangsungan hidup yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tak memiliki kondisi semacam itu.
Secara khusus xanthelasmata berkaitan dengan 51 persen risiko serangan jantung dan 40 persen risiko peningkatan sakit jantung ishemic. Resiko kematian juga naik sampai 17 persen di kalangan pasien semacam itu.
"Di masyarakat tempat faktor lain risiko sakit jantung dan pembuluh darah tak dapat diukur, keberadaan xanthelasmata mungkin bisa jadi petunjuk yang bermanfaat mengenai penyakit atherosclerotic (pengerasan pembuluh darah) yang mengancam," kata para penulis studi tersebut di dalam siaran pers itu.

Eropa Makin Banyak Kaji Islam Indonesia

 By: Danus Lakburlawal

Dilansir dari Kantor Berita ANTARA - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Nur Kholis Setiawan mengatakan bahwa saat ini semakin banyak perguruan tinggi di Eropa yang mendirikan kajian mengenai Islam di Indonesia karena mereka tertarik atas kehidupan beragamanya.
"Mereka menyadari Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, juga penting," kata Nur Kholis saat kuliah umum di Universitas Wina, Austria, Senin.
Nur Kholis bersama dengan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Prof BS Mardiatmadja dan Direktur Institute for Study of Islamic Though and Civilization (Insist) Hamid Fahmi Zarkasyi berada di Austria untuk memberi kuliah umum di Universitas Wina dan Universitas Salzburg.
Mereka mengikuti kegiatan Kampanye Diplomatik Umum yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri.
Nur Kholis yang pernah belajar mengenai kajian Islam di Jerman dan mengambil S2 di Belanda itu mengatakan, kajian Islam di Indonesia antara lain ada di Jerman (Frankruf, Hamburg, Berlin, dan Bonn), Belanda, dan Inggris.
Nur Kholis mengatakan, mereka kagum dan merasa heran, Indonesia yang luas dan sangat beragam budaya serta agama tidak pernah bentrok seperti di Balkan. "Aman-aman saja. Mereka kagum," katanya.
Beberapa waktu lalu, katanya, Jerman merasa gagal membangun keanekaragaman padahal penduduknya hanya terdiri dari Jerman asli, Turki dan Yahudi.
Hal itu, katanya, karena Jerman merasa yang paling utama. "Nah Indonesia tidak mengalami hal ini. Kita saling menghargai satu sama lain," katanya.
Nur Kholis juga mengatakan, sejak dahulu kajian mengenai Islam di Eropa hanya tertuju pada kajian Islam Timur Tengah. Namun setelah melihat perkembangan yang ada mereka merasa perlu melihat Islam dari sisi yang lain. "Indonesia salah satunya," kata Nur Kholis.
Ia mengatakan, Indonesia sebagai negara muslim yang besar namun angka konfliknya kecil.
Pada kesempatan itu Nur Kholis juga menggambarkan kondisi kehidupan antaragama di Indonesia. Ia mengakatan bahwa kehidupan antaragama di masa pascareformasi lebih baik dibanding masa orde baru.
Ia mengatakan, pada saat orde baru keberagaman dicoba untuk dieliminir.
Nur Kholis juga mengatakan, jikapun ada konflik di Indonesia maka itu bukan merupakan konflik antaragama. "Saya kira lebih banyak karena faktor lain," katanya.
Sebagai contoh kerusuhan di Sampit, Kalimantan, dan Poso (Sulawesi Tengah), katanya, bukanlah kerusuhan antaragama. Ia mengatakan kerusuhan di Sampit merupakan kerusuhan etnis.
Saat kunjungan Presiden Austria Heinz Fischer ke Indonesia 9 November, Indonesia dan Austria menandatangani perjanjian di bidang peningkatan kerja sama dialog antar umat beragama untuk mendorong hubungan kedua negara yang lebih baik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kerja sama itu dapat berbentuk pertukaran pelajar ataupun kunjungan pemuka agama dari kedua negara dalam upaya membentuk dialog antar penganut agama.
Sementara Presiden Fischer mengatakan, Austria telah mendorong adanya dialog antar umat beragama di dalam negeri mereka sebagai upaya untuk mendorong adanya rasa saling memahami.
"Hal tersebut kami kembangkan melalui kerja sama di bidang tersebut dengan negara lain, dan kami memilih